Andalan

Kereta dari Masa Lalu

Malam itu, sunyi malam yang telah terbangun tiba-tiba pecah oleh bising kereta yang tiba-tiba datang. Entah darimana, entah apa tujuannya, kereta itu datang dengan kecepatan yang tak dapat disangka-sangka. Aku yang sedang melintas dan menikmati keheningan malam di atas lintasan kereta tersebut tak dapat menghindar. BRAK! Tubuhku terhempas setelah ditabrak oleh kereta yang tak sekalipun mencoba untuk memperlambat lajunya.

Night Trains in Montenegro | Exploring Europe! | TravelingOnRails
Sumber : https://travelingonrails.com/wp-content/uploads/2020/02/Night-Trains-in-Montenegro.jpg

Aku bertanya dalam hati setelah tubuhku mencium tanah, “Kereta apa itu? Mengapa ia tiba-tiba hadir di tengah malam yang sunyi ini? Mengapa Aku yang jadi sasarannya? Dan mengapa Aku tak dapat mengelak sedikitpun? Apakah ini takdirku?”. Aku coba bertanya kembali pada diriku. Aku seperti mengenal kereta tersebut. Aku seperti pernah bertemu dan menaiki kereta tersebut.

3… 2… 1… Ya, Aku mengenal kereta itu. Kereta itu pernah membawaku pergi menjelajahi dunia baru, sebuah dunia yang tak pernah sekalipun kusentuh sebelum itu.

Lanjutkan membaca “Kereta dari Masa Lalu”
Andalan

Utopia, Mungkin itu Kata yang Tepat untuk Cita-Citaku

Tulisan ini adalah isi kepala, tak ada ilmu pasti yang disuguhkan, tidak ada teori-teori yang dikemukakan, karena ini bukan buku Ilmu Pengetahuan.

Terpancing oleh obrolan kemarin sore, hari ini Aku jadi ingin menulis kembali. Tulisan kali ini mungkin akan mengarah kepada sebuah cita-cita utopis. Aku sadar ini sulit sekali dan akan selalu ada di alam khayal, tapi bukan berarti Aku tak akan berusaha. Mari, kita mulai cerita itu.

“Untuk mencapai sesuatu kita butuh money, power, and violence

Sesuatu yang menggelitik idealismeku, walaupun Aku tahu bahwa itu memang nyata adanya. Hal yang tak asing bagi kita, khususnya diriku, namun rasanya masih sangat begitu asing untuk diterima begitu saja dalam diri ini. Tapi, langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah menolak, tetapi coba mengolah dan menerima, sebelum Aku memilih untuk mengubah konsep tersebut.

Lanjutkan membaca “Utopia, Mungkin itu Kata yang Tepat untuk Cita-Citaku”

Waktuku

Sudah lama sekali sejak Aku terakhir kali menulis di blog ini. Hari ini Aku akan menulis sebuah hal yang Aku sadari ketika pagi tadi Aku menjalankan rangkaian sholat Idul Fitri berjamaah. Lebih tepatnya khutbah dari seorang ustadz yang dibawakan dengan begitu santai, namun rasanya sangat tajam dan membuat diri ini tidak bergeming sama sekali. Di suasana yang fitri ini, Ia mengingatkan kita bahwasanya mereka yang membuang-buang uangnya tidaklah segila mereka yang setiap harinya membuang-buang waktunya yang berharga.

Sumber : https://sitn.hms.harvard.edu/flash/2019/no-not-just-time-speeds-get-older/
Lanjutkan membaca “Waktuku”

Bola Ubi

12/10/2020 05:13 AM

Dicari-cari tapi tak selalu ada,

Terlihat kokoh di luar

Namun, kosong di dalam

Terlihat berisi,

Tapi ternyata tak pernah disinggahi

Selalu disenangi,

Karena rasanya,

Selalu didambakan,

Karena sentuhannya

Dan selalu dicari,

Karena kesannya

Tapi,

Apabila bola ubi bisa berbicara,

Apakah dia akan berkata iya,

Bila ditanya โ€œApakah kamu ingin bebas dari kekosongan?โ€

Tapi, 

Itulah syukur

Mungkin, jika bola ubi tercipta berbeda,

Ia tak akan seperti sekarang,

Tak jadi idola, tak ada di hati para penggemarnya

Di Sudut Barat Aula Barat

Image for post
Di Sudut Barat Aula Barat, curahan hati yang telah usai

Disini ku terdiam,

meratapi apa yang biasanya aku kerjakan

Disini ku bersila,

menghayati apa yang dulu telah aku kerjakan

Disini ku bersandar,

menulis apa yang telah lama aku kerjakan


Aku menatap, tanpa celah yang bermakna

Bagai rumput yang terbangun melihat langit yang menangis

Bagai pohon yang berdiri mendengar keluhan sang Mentari

Bagai jalan setapak yang menerima curahan hati sang alam

Bukan Benci

Manusia diberi kata-kata bukan untuk membenci, tapi untuk menghargai

Manusia diberi rasa bukan untuk membenci, tapi untuk menyayangi

Dan manusia diberi hati bukan untuk membenci, tapi untuk mencintai

Namun, mengapa orang membenci?

Satu arah

Monoton

Tak berwarna

Hidup ini mengajarkan pada kita untuk melihat ke segala arah agar jauh lebih berwarna

10 Hari Air dan Api

June 02, 2018

Selamat malam semua,
Bismillah, ini adalah untuk kesekian kalinya saya mencoba menulis. Mungkin tulisan ini tidaklah sebaik yang kalian harapkan. Tapi harapan saya hanya satu, semoga kalian bisa membacanya sambil menarik secangkir kopi di samping kalian.

“Menulis itu peduli. Menulis itu mencinta.”

– Helvy Tiana Rosa 

Kau anggap aku apa?
Dia anggap aku apa?
Kalian anggap aku apa?
Tapi Aku tak peduli dengan itu semua
Aku lebih resah ketika aku bertanya pada bayangan,
“Siapa sebenarnya Aku”
Akhirnya kuputuskan untuk menulis lagi, mungkin saja tulisanku bisa menyadarkan diriku “Siapa sebenarnya Aku?”.
Tapi kurasa ini bukan tentang tulisan puisi. Melainkan sebuah kata hati yang dilambangkan oleh bahasa puisi.

Lanjutkan membaca “10 Hari Air dan Api”